Saatnya Membangun Sekolah Ketahanan Keluarga

Membangun Sekolah Ketahanan Keluarga di Era Digital Yang Serba Cepat.

 

SMPN 26 Bandung, titin supriyatin, inti kolbi,

Kasus meninggalnya salah seorang siswa kami beberapa bulan lalu, oleh pelaku yang dikenal (teman bermain) dan masih berstatus pelajar beberapa waktu lalu menjadi tamparan keras bagi dunia Pendidikan, khususnya SMPN 26 Bandung. Bagaimana tidak, berbagai upaya dilakukan di sekolah untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak berkesan sia-sia, terlebih sampai berujung hilangnya nyawa.

Sekolah sudah berupaya keras melakukan pencegahan dan perlindungan kepada anak mulai dari mengeluarkan kebijakan internal terkait kekerasan, pembatasan penggunaan Gadget, melakukan sosialisasi dan edukasi anti kekerasan, membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan kekerasan, mengoptimalkan pendampingan Guru BK dan Guru Wali, pemasangan CCTV di Sekolah, membuat SOP khusus kunjungan tamu serta aturan dan Tata-tertib keluar masuk area sekolah, membuat program parenting untuk mensinergikan pola asuh anak dengan orang tua bahkan membuat program khusus bernama “Gerbang Surga (Gerakan Bangun Subuh bersama Keluarga)” sebagai bentuk pelibatan orang tua secara langsung dalam pendidikan karakter anak di rumah.

Upaya maksimal ini, masih kecolongan ketika kejadian yang menimpa anak kami Alm. Zain Ahmad Abdul Qudus terjadi sepulang sekolah. Sebagai kepala sekolah, terus terang saya merasa sangat terpukul dengan adanya kasus ini. Namun yakin, kasus ini membangunkan kita semua baik Keluarga, Sekolah, masyarakat dan pemerintah khususnya OPD terkait untuk lebih serius dalam mengentaskan masalah kekerasan pada anak, terlebih bagi kami pihak SMPN 26 Bandung. Meskipun kejadiannya di luar sekolah, dilakukan oleh orang lain yang tidak berkaitan dengan SMPN 26 Bandung, hal ini membuktikan masih ada ruang dimana anak belum mendapat jaminan keamanan.

Sebagai kepala sekolah penulis mencoba mencari akar permasalahan utama. Bagi penulis, setiap anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengaruh lingkungannya. Prinsip dasarnya lingkungan yang baik akan turut membangun anak dengan melahirkan sikap/akhlak yang baik, sebaliknya lingkungan yang buruk akan tampak pada akhlak anak yang buruk juga. Untuk berinteraksi dengan lingkungan anak perlu memiliki bekal berupa sikap dan kemampuan adaptasi yang cukup dengan adanya pendampingan orang dewasa, karena sejatinya lingkungan hanya akan memberikan reaksi/ respon terhadap sikap anak itu sendiri.

 

Lingkungan mana yang akan dipilih anak?.

Tentunya anak akan memilih lingkungan yang mendukung ‘versi mereka’. Lingkungan yang mengakui, memahami dan menerima keberadaan mereka, yang mengerti sudut pandang mereka, tanpa banyak intervensi. Lingkungan yang menuntun bukan menuntut. Lalu ada berapa lingkungan yang mempengaruhi anak?

Hemat penulis setidaknya ada 3 lingkungan, antara lain: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah dan (3) lingkungan bermain.


Sampai disini, penulis merenung sudahkah anak merasa aman dan terlindungi di ketiga lingkungan ini? Sudahkah para orang dewasa di lingkungan tersebut memberikan pengakuan, penerimaan dan perlindungan terhadap anak dan hak-haknya?

Sebuah perenungan besar bagi kita para orangtua, sudahkah menjadikan rumah sebagai tempat pulang anak?

Sudahkah keluarga menjadi tempat ternyaman anak bercerita ?

Sudahkah kita memiliki waktu khusus untuk mendampingi buah hati kita? Atau justru sebaliknya, dengan alasan sibuk bekerja, kita tidak memiliki waktu untuk mendampingi anak?


Rumah menjadi hal paling menakutkan bagi anak, orangtua banyak menuntut bukan menuntun sehingga menjadi musuh utama anak, dan dampaknya anak menjadi merasa tidak diakui, tidak diterima, tidak diperhatikan dan akhirnya anak bungkam dan bermain rahasia dengan orangtua yang berujung pada pelarian dan pencarian lingkungan di luar rumah untuk mendapat kenyamanan.

Renungan bagi kita para guru dan para Kepala Sekolah, sudahkah menjadikan lingkungan sekolah sebagai taman-taman seperti yang diimpikan Ki Hajar Dewantara?

Sudahkah kita menjadi tempat penyemaian benih-benih kebudayaan?

sudahkah kita menjadi teladan bagi anak?

sudahkah sekolah menjamin keamanan dan memberikan perlindungan hak-hak anak, dan sudah sejauh mana kita menuntun anak?

atau dengan dalih aturan dan larangan kita pun lebih banyak menuntut anak agar patuh tanpa memberikan alasannya?

Dalam mendukung lingkungan bermain anak yang positif, sudahkah kita sebagai anggota masyarakat dan orang dewasa turut peduli dan proaktif pada ‘pertemanan anak-anak’ baik di dunia nyata maupun di dunia maya?

Pernahkah kita ikut menegur anak-anak yang bergerombol dan merokok di tempat umum?

Pernahkah kita ikut menegur anak-anak yang berkendara padahal kita tahu tentunya mereka belum punya SIM? Atau pernahkah kita menegur orang asing yang mondar mandir di lingkungan rumah?

Bertanya siapa, dari mana, mau bertemu siapa? Apakah kita merasakan kekhawatiran atau justru tidak peduli?

Semua pertanyaan ini tentu akan mendapat jawaban yang beragam di hati para pembaca. Namun penulis amati ada satu peluang besar untuk mewujudkan lingkungan yang dibutuhkan anak, baik itu di rumah, sekolah dan masyarakat. Kuncinya adalah pada kesadaran keluarga, sekolah dan masyarakat untuk berkolaborasi secara nyata mewujudkan lingkungan yang aman bagi anak. Aturan yang diajarkan di sekolah mestilah seiring sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan orangtua dari rumah dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka untuk mewujudkannya perlu duduk bersama, menyamakan persepsi pola asuh antara sekolah, keluarga dan unsur kemasyarakatan.

 

Tekad Kami Dalam Membangun Sekolah Ketahanan Keluarga.

Bagi kami di SMPN 26 Bandung hal ini bukan lagi wacana, melainkan sebuah tantangan sekaligus kerja nyata. Dua tahun terakhir ini kami membangun kerjasama secara intens dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Pada tahun sebelumnya kerjasama terpusat pada parenting dan Program Gerbang Surga, dan pada tahun 2026 ini lebih serius lagi khususnya dalam program BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) dan Parenting Expert Session.

Bagi masyarakat awam mungkin terkesan aneh apabila Sekolah bekerjasama dengan KUA, karena biasanya KUA identik dengan pernikahan. Padahal ada banyak program KUA yang dapat dikolaborasikan dengan program sekolah yang memiliki tujuan yang sama. Kita menyadari ada banyak masalah anak yang muncul sebagai dampak dari masalah keluarga. Maka solusi dasar yang kami pilih adalah penguatan keluarga sebagai basic lingkungan anak.

Parenting Expert Session merupakan salah kegiatan penguatan karakter dalam rangkaian SPORA (Spirit of Ramadhan) di SMPN 26 Bandung yang spesial diwujudkan sebagai sarana belajar bagi para orangtua. Kami sadar, selain anak yang harus kami bimbing ada mitra utama sekolah yakni orangtua yang harus sinergi dalam pola asuh. Untuk merealisasikannya, kegiatan ini telah mulai launching pada hari Jum’at, 6 Maret 2026 sekaligus mengenalkan program ‘The MOST KUA _ Move of Sakinah, Maslahat’.

Kegiatan Parenting Expert Session ini yang mengusung tema, ‘Harmoni rasa; Mendampingi Langkah Remaja dengan Cinta dan Do’a’ dihadiri secara langsung oleh pasangan orangtua dan anak perwakilan setiap kelas, selebihnya mengikuti melalui live streaming Youtube. Sementara dari unsur KUA dihadiri oleh Kepala KUA Kecamatan Sukajadi, H. Umar Mansyur beserta jajaran penyuluh dan Hj. Neirna Yayah Daryati, S.Ag, M. Sos., selaku Penyuluh dan Psikolog di KUA Sukajadi sebagai narasumber utama.

Ada hal yang menarik, pada sambutannya, H. Umar Mansyur, Kepala KUA Kecamatan Sukajadi mengungkapkan harapannya melalui kegiatan ini dapat meningkatkan keterikatan anak dan orangtua sehingga terwujud keluarga sakinah yang menjadi pondasi utama dalam perkembangan anak.

 


“Mempersiapkan keluarga sakinah tidak dimulai saat menikah, tetapi saat seseorang belajar mengenal dirinya, mengelola emosi dan memahami nilai-nilai kehidupan. Maka penting bagi orangtua mempersiapkan anak-anaknya sejak dini agar kelak dapat membangun keluarga-keluarga yang sakinah dan maslahat” tuturnya.


 

Kegiatan BRUS di SMPN 26 telah lebih dulu dilaksanakan yakni pada hari Selasa, 3 Maret 2026 dengan menghadirkan 6 orang penyuluh KUA yang memberikan bimbingan terkait bahaya gadget dan kebijakan penggunaan teknologi dan diikuti oleh seluruh siswa.

Hj. Neirna menguatkan bahwa melalui BRUS, KUA hadir mendampingi generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, kuat secara spiritual dan bijak dalam mengambil keputusan hidup. Pembinaan keluarga melalui the MOST KUA ini sangat menarik. Saya sebagai Kepala Sekolah ikut terharu. Dalam momentum ini anak dan orang dihadirkan secara langsung dan diberikan ruang untuk lebih mengenal satu sama lain.

Orangtua diminta memeluk anaknya selama 20 detik, merasakan dahsyatnya energi dari pelukan tersebut. Anak dan orangtua kemudian bercerita sesuai sudut pandang masing-masing, memperkuat komunikasi, saling memahami, dan menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi. Beberapa orangtua tampak berkaca-kaca, mengusap air mata, mengucap do’a dan memberikan ciuman untuk anaknya.

Narasumber juga memberikan bekal dan tips bagi para orangtua agar dapat memahami karakter dasar anak apakah termasuk tipe Koleris, Sanguinis, Plegmatis ataukah melankolis. Hal ini menjadi penting agar tidak salah dalam melakukan pendampingan. Sesi menjadi lebih hidup dan interaktif saat diberikan quiz sederhana dan sesi tanya jawab diselingi tepuk sakinah yang menjadi jargon utama.

Saya memastikan, kegiatan kerjasama dengan KUA Kecamatan Sukajadi ini bukan sebatas seremonial dan akan terus berlangsung dan berkesinambungan. KUA juga memfasilitasi layanan konseling bagi anak dan juga orangtua, menerima referal dari guru BK SMPN 26 bagi kasus anak dan keluarga yang memerlukan pendampingan lanjutan. Menjadi anugerah bagi kami dan berulang kali mengucap syukur atas adanya kerjasama dengan KUA yang sudah berjalan intensif 2 tahun ini dan menjadi kekuatan bagi sekolah secara khusus. Saya yakin, inovasi ini akan berbuah baik cepat ataupun lambat.

Sejatinya ini sebuah ijtihad yang saya ambil untuk menyelamatkan anak-anak kami lainnya, sehingga tidak terjadi lagi kasus serupa yang dialami ananda Zain. Di depan para orangtua dan siswa saya tegaskan pentingnya Bercermin dari kasus kemarin, bahwa ada anak kita yang bermasalah dengan pergaulannya dan berujung pada hilangnya nyawa, dan saya tidak ingin terjadi lagi. Cukuplah kita kecolongan satu orang.

Melalui tulisan ini penulis juga mengajak seluruh kepala sekolah untuk membangun kerjasama dengan KUA. Semakin banyak sekolah yang bekerjasama dengan KUA, maka akan semakin meningkatkan keharmonisan keluarga dan kesamaan sudut pandang antara anak dan orangtua.

Teruntuk para orang tua, apabila masalah anak ditemukan terlebih dahulu oleh pihak sekolah, terimalah saat kami menyampaikan kepada keluarga, sebaliknya apabila keluarga mengetahui terlebih dahulu masalah siswa baik di rumah, masalah pergaulannya dan keluhan anak di sekolah tolong kabari kami pihak sekolah agar dapat melakukan tindakan pencegahan dan perlindungan kedepannya. Mari kita bersama-sama mewujudkan lingkungan yang aman bagi anak khususnya di Kota Bandung.*

Titin Supriyatin, inti kolbi,
oleh : Titin Supriyatin

 

Kepala SMPN 26 Bandung
Juara 1 Kepala Sekolah Dedikatif Jenjang SMP Kota Bandung Tahun 2025
Juara 2 Kepala Sekolah Inovatif Jenjang SMP Kota Bandung Tahun 2024
Kepala Sekolah Mentor, pada program Diklat BCKS BBGTK Jawa Barat 2025
Fasilitator Daerah PPKSP Kota Bandung (2024-2025)
Pengurus APKS PGRI Jawa Barat

 

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *